Selasa, 29 Maret 2016

UMMULQURA INDONESIA, PESANTREN BERSTABDAR INTERNATIONAL




Pembangunan nasional merupakan upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Tujuan ideal yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia lewat proses dan sistem pendidikan nasional seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab". Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, merupakan Undang-Undang yang mengatur penyelenggaraan satu Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana dikehendaki UUD 1945. Aceh merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diberikan Otonomi Khusus sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang  Nomor 11 Tahun 2006, Tentang Pemerintahan Aceh. UUPA tersebut dalam Bab XXX, pasal 216 menyebutkan bahwa setiap penduduk Aceh berhak mendapat pendidikan yang bermutu dan Islami sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, dibutuhkan pengelolaan pendidikan secara professional dan memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Tujuan pendidikan dan pembinaan warga negara adalah untuk merealisasikan Pembangunan Nasional secara umum dan di Aceh secara khusus, maka untuk itu perlu adanya peningkatan terhadap pembinaan pendidikan Islam sebagai salah satu pilar yang sangat penting demi tercapainya tujuan dimaksud.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama memainkan peran penting dalam menyukseskan berbagai program pemerintah. Argumentasi ini didasarkan pada realita, bahwa di satu sisi masyarakat Aceh masih fanatik dengan lembaga pendidikan pesantren dan pada sisi saat yang bersamaan pengabdian pesantrenh kepada ummat meliputi berbagai aspek kehidupan yang sangat luas. Pesantren dapat berperan sebagai patner pemerintah dalam konteks memberikan masukan dan pertimbangan dalam perumusan program sampai pada implementasi program di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian akan terjadi sinergi positif antara pemerintah akan benar-benar berjalan linear dengan kepentingan masyarakat dan tujuan dari program-program tersebut dapat dicapai dengan maksimal.
Hubungan pesantren dengan masyarakat yang sudah terjalin dengan baik menjadi asset penting dan sangat potensial untuk menyerap berbagai aspirasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Aceh. Demikian juga, sebagai salah satu elemen pembangunan pesantren memiliki tanggugjawab untuk ikut menyukseskan berbagai program pemerintah yang akan diimplimentasikan, sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Ini juga berarti kesuksesan pemerintah.
Sebagai wujud pengabdian kepada bangsa dan negara sekaligus menampung tuntutan masyarakat di bidang pendidikan, maka pada hari Jumat 09 Dzulkaidah 1432 H. bertepatan dengan tanggal 07 Oktober 2011 dideklarasikanlah berdiri sebuah Pesantren yang diberinama dengan “Pesantren Ummul Qura” berdasarkan Surat Izin Operassional Nomor: ID.451.1/73/III/2011. Alhamdulillah pada hari Rabu 09 Januari 2013 M, bertepatan dengan tanggal 27 Safar 1434 H. Pesantren ini berhasil mengurus badan hukum yang diakui negara Republik Indonesia berbentuk “Badan Hukum Yayasan” yag diberi nama dengan “Yayasan Ummul Qura Aceh” yang berkedudukan di Gampong Paya Meuneng, Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh berdasarkan Akta Notaris Nomor: 19 Tanggal 09 Januari 2013 dan telah disahkan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-6203.AH.01.04 Tahun 2013 dengan NPWP: 03.258.501.0-104.000. Setelah Yayasan ini berdiri pada tanggal 09 Januari 2013 M/27 Safar 1434 H, Abiya Dr. Saifullah, S.Ag, M.Pd selaku salah satu Pendiri Yayasan ini menghibbahkan tanah milikinya seluas 1.555,1 M² (Seribu Lima Ratus Lima Puluh Lima Koma Satu Meter Persegi) kepada Pesantren Ummul Qura ini yang berkedudukan di Paya Meuneng, Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh berdasarkan Surat Iqrar Hibbah Nomor: 01 Tahun 2013 Tanggal 11 Januari 2013 M/29 Safar 1434 H yang diketahui Geuchik Gampong Paya Meuneng. Dengan Demikian Pesantren Ini resmi memiliki tanah milik Pesantren dan bukan kepemilikan pribadi yang sangat bermanfaat kepada masyarakat muslim secara umum.
Yayasan Ummul Qura Aceh, sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar, bergerak dalam bidang  Pendidikan, Keagamaan, Sosial dan Kemanusiaan. Wujud dari Anggaran Dasar tersebut Yayasan Ummul Qura Aceh berupaya turut berpartisipasi dalam pembentukan pribadi manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki keunggulan. Keunggulan dalam akidah yang lurus, akhlak yang mulia, ibadah yang tekun dan istiqamah, serta kompetensi pribadi dalam membangun bangsa. Berdasarkan hal tersebut, maka Yayasan Ummul Qura Aceh mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal diberinama dengan “Pesantren Ummul Qura”. Bahasa komunikasi yang dipakai kesehariannya adalah Bahasa Arab.
AbiyaDoktor mendirikan Pesantren ini meruapakan cita-cita orang tuanya yang belum kesampaian karena telah duluan meninggal dunia, maka beliau mendirikan pesantren ini sebagai amanah dari orang tuannya "Muhammd Syiah Cutbben" Walaupun pesantren ini didirkikan oleh AbiyaDoktor tapi buka miliknya, karena tanahnya sudah dihibbahkan untuk pesantren untuk kemaslahatan muslimin dan muslimat dimanapun berada. Dalam Surat hibbah Abiya dengan tegas menyebutkan bahwa jika nantinya Pesantren ini dibubarkan, kama tanahnya jatuh kepada Mesjid Besar Peusangan di Matangglumpangdua. Untuk itu mari membatu pesantren ummat ini dengan niat karena Allah SWT. BARAKALLAH.

Jumat, 04 Maret 2016

Profil Lulusan SMP-IT UmmulQura Indonesia



Setelah menyelesaikan 3 (tiga) tahun pendidikan di SMP-IT Ummul Qura Indonesia, Lulusan mempunyai:
1.   1. Mempunyai Aqidah yang lurus, ibadah yang benar, dan berakhlaq mulia
2.        Lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) 100% dengan prestasi akademik minimal 7,5 (tujuh koma lima).
3.        Menguasai program Microsoft Office (Word, Excel, dan PowerPoint)
4.        Mampu berbahasa Arab dengan lancar dan memahami bahasa Inggris
5.        Mempunyai Hafalan Alquran minimal 1 Juz (juz 30) serta hafalan doa-doa keseharian Muslim.
6.        Mempunyai kesalehan sosial yang tinggi.
7.        Mandiri, Kreatif dan mempunyai jiwa kepemimpinan.

VISI DAN MISI SMP UmmulQura Indonesia



A. Visi SMP-IT UmmulQura Indonesia
To be Excellent School
Pencetak Generasi Rabbani, Cerdas, dan Berprestasi Yang Mampu
Menjawab Peradaban Zaman 2025
B. Misi SMP-IT UmmulQura Indonesia
Berangkat dari visi di atas, maka yang menjadi misi dari SMP-IT Ummul Qura Indonesia adalah:
1.    Menyelenggarakan sistem pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta menerapkan sistem penilaian multi dimensi yang terpadu sehingga dapat mengembangkan potensi setiap siswa.
2.    Mengembangkan Program Pendidikan Rabbani berbasis IQ, EQ, SQ dan IT agar dapat bersaing di dunia global.
3.    Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa percakapan sehari-hari di Kampus UmmulQura Indonesia
4.    Mewujudkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional.
5.    Menyelenggarakan Manajemen Excellent School yang konfrehenshif.
6.    Mewujudkan prasana dan sarana pembelajaran yang lengkap dengan kualitas dan kuantitas yang memadai.
7.    Membangun Kerjasama menuju UmmulQura Indonesia To be Excellent School.

Sabtu, 14 November 2015

المبادئ الأساسية فى مناهج الترْبية الإسلامية


المبادئ الأساسية فى مناهج الترْبية الإسلامية

       لم تكن الْمناهج محدودة مقيدة بساعات معينة لكل مادة فى الأسبوع كما هى اليوم فى مدارسنا ولكنها كانت عامة بحيث يترك للمعلم أو للمؤدب الحرية فى اختيار الكتب والمواد التى يدرسها للناشثين
       ذات مرة رأى المفضل بن زيد ... ابن أعرابية مسلمة فأعجب بمنظره فسألَها عنْه فقالت: "إذا أتم خمس سنوات أسلمته إلى المؤدب فحفظ القرآن فتلاه فعلمه الشعر فرواه ورغب فى مفاخرة قومه وطلب مآثر آبائه وأجداده فلما بلغ الحلم حملته على أعناق الخيل فتمرس وتفرس ولبس السلاح ومشى بين بيوت الحى وأصغى إلى صوت الصارح
ومن إجابة تلك الأم العربية المسلمة نرى أن الطفل كان يسلم للمؤدب وعمره خمس سنوات - وليس معنى هذا أن العليم يبدأ فى الخامسة من العمر - فيحفظه القرآن الكريم بعد أن يعلمه طبعا القراَءة والكتابة وبعد إجادة حفظه يعلمه الشعر ورواية الشعر ويرغبه فى دراسة تاريخ آبائه وأجداده وقومه والبحث عن مآثرهم ومفاخرهم حتى يبلغ الحلم فيتمرن على ركوب الخيل ويتعلم الفروسية  واستعمال السلاح فإذا أجاد هذه الفنون الحربية ومهر فيها مشى بين بيوت حية وقبيلته وأصغى إلى صوت الصارخ ليعمل على إنقاذه وإغاثته
وقد كتب عمر بن الخطاب رضى الله عنه المنهاج الآتى وأرسله إلى الولاة من الْمسلمين وقال لَهم:
"أما بعد فعلموا أولادكم السباحة والفروسية ورووهم ما سار من المثل وحسن من الشعر" فعمر يأمر بتعليم الأولاد السباحة والفروسية والرماية وما سار من المثل وحسن من الشعر ونعتقد أنه حث على دراسة السباحة والعوم, والريضة البدنية, والأمثال العربية المشهورة, والشعر العذب الجميل, بعد معرفة مبادئ الدين الإسلامى, وحفظ القرآن الكريم, ودراسة الحديث الشريف.
وقد ذكر ابن سينا فى كتاب السياسة آراء تمينة فى تربية الأولاد, ونصح بالبدء بتعليم الطفل القرآن الكريم, بمجرد استعداده جسميا وعقليا للتعليم. وفى الوقت نفسه يتعلم حروف الهجاء والقرأة والكتابة, ويدرس قواعد الدين, ثم يروى الشعر, ويبتدئ بالرجز ثم القصيدة؛ لأن رواية الرجز أسهل, وحفظه أيسر؛ إذ أن أبياته أقصر, ووزنة أخف على أن يختار له أحسن الشعر مما قيل فى فضل الأدب, ومدح العلم وذم الجهل, وما حث فيه على بر الوالدين, واصطناع المعروف, وقرى الضيف ... فإذا فرغ الصبى من حفظ القرآن الكريم, وألم بأصول اللغة العربية, نظر عند ذلك فى توجيبه وإرشاده إلى ما يلاثم طبيعته واستعداده.
وفى تلك النصيحة الأخيرة وهى توجيه المتعلم إلى ما يناسب ميوله وطبيعته واستعداده تتمثل روح التربية الحديثة فى عصرنا هذا. فإن علماء التربية اليوم ينادون بمراعاة استعداد المتعلم ورغبته فى الدراسة, بحيث يوجه إلى الناحية العلمية, أو العملية, أو الأدبية, أو الرياضية, أو الدينية, أو الاجتماعية, أو الفنية التى يميل إليها ويرغب فيها حتى ينجح نجاحا باهرا فى درسته.
وكان ابن التوام يقول: "من تمام ما يجب على الآباء من حفظ الأبناء أن يعلموهم الكتاب (أى الكتابة) والحساب والسباحة". وكان تحفيظ القرآن الكريم نقطة رئيسية فى التعليم الأولى بالكتاتيب.
وقد أوصى الغزالى بتعليم الطفل القرآن, وأحاديث الأخبار, وحكايات الأبرار وأحوالهم, ثم بعض الأحكام الدينية, والشعر الخالى من ذكر العشق وأهله.
وأضاف ابن مسكوية مبادئ الحساب, وقليلا من قواعد اللغة العربية. وقد وضع الجاحظ منهاجا مفصلا ذكر فيه: "ولا تشغل قلب الصبى بالنحو إلا بقدر ما يؤديه إلى السلامة من فاحش اللحن, ومن مقدار جهل العوام فى كتاب إن كتبه, وشعر إن أنشده, وشىء إن وصفه, ما زاد على ذلك فهو مشغلة عما هو أولى به كرواية الخبر الصادق, والمثل الشاهد, والمعنى البارع. ويعرف بعض الحساب دون الهندسة والمساحة, ويعلم كتابة الإنشاء بلفظ سهل, وعبارة حلوة, ويحذر التكلف, ويحثه فى قراءة البلغاء أن يستفيد المعانى "للألفاظ".
وتعد كلمة الجاحظ ثمينة فيما اشتملت عليه من آراء لعدها اليوم حديثة فى عالم التربية, فهو يقصد من دراسة النحو القدرة على القراءة الصحيحة, والكتابة الصحيحة, والكلام الصحيح, ولا يريد التوسع فى دراسته, حتى لا يشغل الصبى عن دراسة التاريخ والأمثل العربية, ويرى الاكتفاء بالحساب للاحتياج إليه فى الحياة العملية. وفى الإنشاء ينصح بمراعاة العبارة العذبة السهلة, الخالية من التكلف, وفى المطالعة يحثه على الا ستفادة من المعانى ولآراء والأفكار.

DASAR-DASAR METODE PENDIDIDKAN ISLAM



DASAR-DASAR
METODE PENDIDIDKAN ISLAM

Metode pendidikan Islam tidak terikat dengan masa tertentu bagi semua materi pelajaran mingguan, seperti yang ada sekarang di sekolah-sekolah kita, karena metode pendidikan Islam bersifat umum. Pendidik atau guru harus diberikan kebebasan dalam memilih buku materi pelajaran yang akan diajarakan bagi anak pendidik.
Pada suatu ketika, mufadhal bin Zaid melihat anak seorang wanita Islam, maka beliau terpesona waktu melihatnya. Zaid bertanya kepada ibunya mengenai anak tersebut dan dijawab “Ketika umurnya genap lima tahun saya telah menyerahkannya pada seorang pendidik untuk belajar menghafal dan membaca Qur’an. Dan mempelajari syair dan riwayat syair. Dan ia bercita-cita menjadi kebanggaan kaumnya dan mempelajari tentang kehebatan –kehebatan bapak dan nenek moyangnya. Manakala mencapai umum dewasa, ia dilatih menunggang kuda dan menggunakan senjata dan dan mengawasi rumah-rumah dilingkungannya dan ia mendengarkan suara jeritan  orang minta tolong.
Dari jawaban ibu anak perempuan tersebut, kita menyimpulkan bahwa, seorang anak dapat diserahkan kepada pendidik pada umur lima tahun, (bukan berarti bahwa pendididkan tersebut dimulai dari umur lima tahun), sebelum ia diajarakan Al-Qur’an, terlebih dahulu ia diajarakan membaca dan menulis. Setelah ia dapat menghafal Al-Qur’an kemudia diajarakan syair serta riwayatnya dan memotifasinya untuk mempelajari sejarah bapak, nenek moyang dan kaumnya. dan membahas khusus sejarah kehebatan dan keagungan mereka, sehingga ia dewasa, maka kemudian dilatih mengenderai kuda dan memperngunakan senjata. Apabila ia telah pandai tentang ilmu berperang, ia pun mengawasi terhadap rumah-rumah wilayahnya dan kabilahnya. ia mendengarkan suara orang minta tolong dan langsung ia menolong dan menyelamatkannya.
Umar bin Khatab, telah menulis sebuah metode pendidikan islam berikut ini dan kemudian dikirim kepada para pemimpin kaum muslimin, dan umar berkata kepada mereka “Ajarilah anak-anak kamu sekalian berenang dan menunggang kuda dan ceritakan kepada mereka pantun dan syair yang baik”.
Maka disini umar memerintahkan mereka untuk mengajari anak berenang, menunggang kuda, memanah pantun dan sya’ir-syair yang baik.
Dan kita meyakini bahwa anjuran umar untuk mengajari berenang, olah raga dan jenis-jenis lain yang populer dikalangan bangsa arab dan syair yang indah lagi baik, hal ini dilakukan setelah anak tersebut mengetahui dasar-dasar agama islam, menghafal qur’an dan mempelajari hadits.
Dan Ibnusina telah mengemukakan pandangannya yang sangat berharga dalam kita As-Siasah pada pendidikan anak didik. Beliau memulai nasehatnya dengan mengajari anak akan Alqur’an sebagai persiapan dasar jasmani dan rohani anak tersebut untuk menerima pendidikan dan pada waktu itu juga diajarkan huruf hijaiyah, bacaan dan tulisan dan diajarkan kaedah-kaedah agama kemudian riwayat-riwayat sya’ir, memulai dengan bentuk rajaz kemudian qasidah, karena bentuk rajaz lebih mudah dan menghafalnya juga mudah karena bait-baitnya lebih ringkas dan wazarnya lebih ringan dan hendaklah memilih syair yang baik sebagai mana yang telah disebutkan pada bab keutamaan adab dan pujian terhadap ilmu pengetahuan dan celaan terhadap kebodohan dan anjuran berbakti kepada kedua orang tua, dan berbuat kebaikan dan memuliakan tamu. Apabila anak telah selesai menghafal  qur’an dan dasar-dasar bahasa arab nampaklah ketika itu arah tujuannya dan perubahan kelakuannya dan kesiapannya.
Dan dalam nasehatnya (ibnusina) yang terakhir, yaitu mengarahkan anak didik sesuai dengan kecondongannya dan bakat dan persiapannya. Dan berikan contoh jiwa pendidikan yang baru seperti masa kita sekarang ini. Sesungguhnya Ilmuan Pendidikan pada hari ini mengajak untuk memperhatikan kesiapan anak didik dan keinginannya untuk belajar, dengan sekira-sekira diarahkan pada sisi ilmiyah, amaliyah, moral, riyazah (exat), agama, sosial, Cabang ilmu yang ia sukai dan ia gemari sehingga ia berhasil dalam pelajarannya dengan sangat membanggakan.
Ibnu Tawwam berkata: “Diantara kesempurnaan yang diwajibkan di atas ayah untuk dihafal para anak adalah mengajarkan menulis, berhitung, berenang”. Menghafal Al-Qur’an adalah poin utama dalam belajar pertama di kuttab-kuttab.
Imam Al-Ghazali mewasiatkan: dengan mengajari anak-anak tetang Alqur’an, hadits, dan hikayat-hikayat tentang orang-orang baik dan kondisi mereka, kemudian ajarkan sebahagian hukum-hukum agama dan syair yang bebas dari sebutan percintaan dan ahli-ahlinya.
Ibnu Maskaweh telah menyusun tentang dasar-dasar ilmu menghitung dan sedikit kawaid-kawaid mengenai lughat bahasa arab
Imam Jahidh menawarkankan sebuah metode pendidikan yang disebutkan: Janganlah kamu menyibukkan hati anak-anak dengan nahu kecuali sekedar terlepas ia dari kesalahan waktu berbicara, dan sekedar terlepas dari kesalahan yang biasa dilakukan oleh orang awam pada menulis, jika ia menulis dan syair, jika ia ingin melantunkan dan sesuatu, jika ia ingin menyifatinya. Jika lebih dari itu, maka ia disibukkan dari sesuatu yang lebih baik daripadanya. Seperti cerita dongeng, drama, nyanyian. Dia mengetahui  ilmu berhitung selain handasah dan masahah. ia tahu menulis karangan dengan lafadh yang mudah dan ungkapan yang indah.
Kalimat Imam Jahihd adalah terhitung kalimat yang berharga, karena di dalamnya terdapat pendapat-pendapat pada saat sekarang dianggap modern di dunia pendidikan. Ia bermaksud mempelajari ilmu nahu sekedar bisa membaca, menulis dan berbicara secara benar. Tidak ingin memperluas dalam pelajarannya. Sehingga tidak menybukkan anak kecil itu dari pelajaran sejarah, umpama-umpama. Dan ia berpendapat bahwa mempelajari ilmu berhitung hanya sekedar kebutuhan ilmiyah. Dalam mempelajari ilmu mengarang hanya sekedar bisa menulis dengan ungkapan yang bagus dan enak, bebas dari pembebanan. Pelajaran motolaah dipelajari sekedar bisa menggunakan makna-makna, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran.